"Pak, aku mau maen ke Banten", kataku kepada Bapak. Hmm, aku tak tahu apa yang Bapak pikirkan saat itu. Mungkin aku dianggap nekad. Atau komentar Bapak saat itu "orang Banten keras-keras lho". Apalagi ketika aku ceritakan hal ini kepada Kakak dan Adikku. Mereka sama sekali tidak merespon dengan baik. "Macem-macem wae. Banten adoh lho, paling juga tidak diijinkan ma Bapak,dsb", katanya kepadaku. Semakin surut langkah ini. Ya Rabb, aku semakin bingung untuk menuruti keinginan ini. Apalagi ketika Bapak menawariku untuk merangkat ke Bali. Saat itu kujawab "Gak mau Pak, aku mau ke Banten". Bapak tak berkomentar apapun atas jawabanku. Rasa ingin ini benar-benar tak bisa dipungkiri.
Entah apa sesungguhnya yang menggerakkan hatiku untuk pergi kesana. Ya, hanya Allahlah yang mengikatkan hati-hati ini. Hanya Allah jualah yang memberi rasa cinta dan ukhuwah yang dasyat. Hemm, kembali aku berpikir. Bagaimana mungkin aku bisa pergi kesana. Sementara ongkos untuk kesana pun tak ada. Gaji mengajarku belum dibayarkan. Apalagi kiriman dari Bapak sudah habis digunakan untuk keperluan lain. Hmmm........
Aku kembali kukuhkan keinginanku. Aku katakan, bahwa aku beda dengan Kakak dan Adikku. Teringat kata seorang sahabat, bahwa untuk sukses itu harus berani menjelajah. Kata itulah yang membuat aku ingin segera membuktikan kepada mereka yang menganggapku kerdil. Hari demi hari pun berlalu. Aku tak bisa perkirakan dengan baik soal waktu, kapan akan benar-benar berangkat ke Banten. Ketika rasa rindu ini sudah menyapa, aku pun ingin memutuskan pergi sendiri. Tapi lagi-lagi Bapak tidak mengijinkan saat aku minta ijin pergi sendiri. Hmm, aku menangis saat itu kawan. Sedih rasanya. Keinginanku harus tertunda. Tapi aku sadar, bahwa inilah yg terbaik untuku. Larangannya mungkin menyakitkan bagiku. Tapi keputusannya benar. Itu menandakan Bapak sayang padaku. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada putrinya.Walau dengan bahasanya yang mungkin sulit kumengerti. Baiklah Pak, aku tunduk padamu. Karena hanya pada beliaulah aku berharap. Toh salah, kalau aku benar-benar pergi. Bapak hanya mengatakan "kamu boleh pergi asal ada temannya. Kalau sendiri, gak usah!".
Yah, aku masih sabar menunggu temanku yang hendak membersamai perjalananku. Ternyata dia baru bisa pergi hari kamis dan akan kembali hari ahad. Sempat kecewa sih, karena tidak bisa menikmati liburan panjang...hehe. "Yah, tak apalah", pikirku. "Yang penting kita bisa sampai sana, walau hanya 2 atau 3 hari saja", tambahku padanya. Hanya untuk sebuah ukhuwah yang mengagumkan. Namun ternyata semua diluar rencana. Hari Rabu siang, dia mengirim sms ke Hp ku. Mengajakku untuk pergi saat itu juga. Padahal saat itu aku baru di kampus, sedang ada kuliah. Antara bingung dan benar-benar bingung. Tanpa pikir panjang lagi, aku balas "ya, kita berangkat sekarang". Jam 13.00 aku meningglkan kampus, dan menuju rumah. Belum juga aku mengepak barang yang mesti kubawa. Jam 13.30 aku selesai mengepak barang seadanya. Dan selesainya, kami berdua menuju terminal Jogya. Setahu kami bus menuju Banten hanya ada pukul 14.00. Sesampai di terminal, kami kebingungan mencari agen bus menuju Banten. "Wah mb, kita terlambat", kataku pada temanku. Kami benar-benar bingung. Sampai nafas kami terengah-engah menaiki tangga hanya untuk mencari agen. Alhamdulillah, setelah bertanya pada agen, ternyata bus yang akan kami tumpangi baru akan berangkat pukul 14.30. Kami lega, akhirnya kami akan melakukan perjalanan juga :). Tapi, kami dikejutkan dengan tarif yang tidak kami duga sebelumnya. Wuih, banyak banget ditariknya. Aku agak sebel juga sih, tapi mau bagaimana lagi. "Kita harus tetap berangkat", kataku dalam hati. Aku bilang sama temanku "Mb, tar yang punya rumah suruh mengganti tiket pulang kita", kataku sambil bercanda ria.
Setelah cukup lama menahan lelah dan menunggu. Akhirnya tepat pukul 15.00 perjalanan kami mulai. Tiba-tiba Hpku berbunyi. Ternyata ada telpon dari Bapak. "Lagi dimana?", tanyanya padaku. "Perjalanan ke Banten Pak", jawabku. "Sama siapa?", tanyanya kembali. "Sama teman, Mb Ari", jawabku lagi. Dan Bapak cuma berpesan "Ya udah hati-hati". Hoho....sampai-sampai aku belum sempat ijin ma Bapak. Untung beliaunya gak marah. kalau marah giman tuh. Padahal aku sudah didalam Bus....hehehe.
(menikmati perjalanan.com) sambil ngerumpi...hahaha. "Hmm, lama juga ya nih perjalanan", pikirku. "Tiba-tiba ada sms masuk dari adikku". "Wealah, lagi-lagi aku kena marah gara-gara modemnya aku bawa ke Banten". Hmm, di dalam bus aku jadi tidak tenang. Benar-benar perjalanan yang tidak nyaman. Lum lagi dengan sangat terpaksa, aku harus meninggaklan beberapa agenda. akhirnya aku ijin tidak mengajar dulu. Hmm, berat sih rasanya membawa segudang persoalan dalam perjalananku. Lum lagi tiba-tiba sms yang isinya bsok aku harus presentasin di kampus. Wuih, pikiranku benar-benar gak tenang. tp mau gmn lagi, kucoba tuk menikmati perjalanan ini, dan melupakan sejenak tentang semua itu. maafkan semuanya, jika aku telah mengecewakan kalian. "Cukup sekali ini saja, selebihnya aku akan patuh pada aturan", janjiku saat itu....ckckckc
Tiba-tiba bus berhenti pada pemberhentian bus. Kami berdua turun untuk menunaikan sholat maghrib dan isya'. Setelah sholat, rasa lapar diperut benar-benar sudah tak tertahankan. Yah, karena siang tadi belum sempat makan, karena saking terburu-burunya mengejar bus. Akhirnya, untuk memenuhi panggilan perut, Kami memesan yang hangat-hangat. Aku beli soto dan tes panas, sementara temanku membeli bakso. Pada giliran membayar, hmm, kaget. Soto, nasi dan teh panas dihargai Rp. 14.000,00. "Wah-wah, kalo begini caranya bisa tekor", kataku. Ya sudahlah, ini menjadi pengalaman berharga buat kami.
Lanjutkan perjalanan...........malam semakin asyik saja. ngobrol dan menikamti tidur yang pulas. Rasanya udah gak sabar pengen segera sampai tempat tujuan. Tanpa tersadar, jam sudah menunjukkan pukul 04.30 pagi. Kami terbangun dari tidur panjang dan segera menunaikan sholat subuh di dalam bus. "Wah berapa jam lagi ya kita sampai", tanyaku pada temanku. Akhirnya, setelah ditunggu-tunggu kami sampai juga di daerah terminal Serang. Hmm, ternyata bus yang kami tumpangi kebablasan. Sehingga kami harus jalan kaki menuju terminal Serang yang jaraknya sekitar 200 m dari kami turun. Yah, itung-itung olahraga pagi..hehe. Sesampai di terminal, sesuai dengan sms yang kami terima. Kami harus naik bus bernama ASLI atau MURNI, pokoknya kalau bukan itu jangan mau naik. Bus yang kami tunggu-tunggu pun belum juga datang. Dan saat itu juga, ada seorang kernet yang menawari kami menuju cisata. Ya, itu tempat tujuan kami. "10.000 ke Cisata", katanya pada kami. Tanpa pikir panjang, dan segera ingin bertemu seseorang. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk naik mini bus yang ditawarkan tadi. "Gpp ya mb, toh tarifnya sama, 10.000", kataku padanya. Dan akhinya kami naik dan duduk dibarisan depan.
Seneng sih bisa duduk dibarisan depan. Artinya kami bisa menikmati pemandangan dengan jelas. Tapi kami benar-benar terganggu dengan sopir itu. Wah, rokoknya itu gak nguatin. Sebatang sudah dihabiskan, E malah nambah lagi. Kalau tidak salah selama perjalanan kami, dia menghabiskan 4 batang rokok. Aku benar-benar pengen muntah. Dan terpaksa deh, didalam bus harus menutup hidung dengan tissue. Perjalanan diperkirakan sekitar 1 jam. Hmm, lama juga ya. "Rumahnya benar-benar pelosok", pikirku...hahaha. Dan menurut informasi, setelah sampai Cisata harus ngojek lagi sekitar 10 menit hingga sampai rumahnya. Tidak kebayang deh, pelosok..sok..sok...hahaha.
Diperjalanan kami sempat bercerita dengan si Sopir. "Hemm, ternyata Banten kebuh duren juga to", kataku dalam hati. Ditengah perjalanan, pak kondektur menarik kami uang. Sesuai perjanjian diawal, ke Cisata Rp. 10.000,-. Tapi tiba-tiba Bapaknya bilang "tambah Rp.10.000 lagi neng". "Hmm, giman sih ni Bapak", pikirku. Kami pun menjawab "Emoh Pak, tadi bilangnya Rp. 10.000,-". Awalnya Bapaknya maksa kami terus. Dan karena kami tetap ngotot, akhirnya Bapaknya yang ngalah. Perjalanan masih 30 menit lagi. Kami berdua didalam bus semakin tidak tenang. Hmm, kami sudah membohongi teman kami, kalau kami tidak jadi maen. Dan karena kasihan, akhirnya kami jujur. "Kami 10 menit lagi sampai Cisata". Dan dia mau menjemput di depan pertigaan cisata kananga. Hmm, lagi-lagi kami kebablasan lagi. Padahal dari awal kami sudah bilang kalau turun di cisata kananga. Oalah, dasar si sopirnya bukan orang Banten asli, jadinya katanya dia tidak tahu. Hmm, akhirnya berhenti deh. Kami disuruh ngojek aja. Hmmmm.........akhirnya, kami singgah di sebuah masjid, dan meminta teman kami untuk menjemput kami. Ah senangnya, bisa sampai disini juga bertemu dengan saudariku...:).






