Perjuangan menuju Cisata

"Pak, aku mau maen ke Banten", kataku kepada Bapak. Hmm, aku tak tahu apa yang Bapak pikirkan saat itu. Mungkin aku dianggap nekad. Atau komentar Bapak saat itu "orang Banten keras-keras lho". Apalagi ketika aku ceritakan hal ini kepada Kakak dan Adikku. Mereka sama sekali tidak merespon dengan baik. "Macem-macem wae. Banten adoh lho, paling juga tidak diijinkan ma Bapak,dsb", katanya kepadaku. Semakin surut langkah ini. Ya Rabb, aku semakin bingung untuk menuruti keinginan ini. Apalagi ketika Bapak menawariku untuk merangkat ke Bali. Saat itu kujawab "Gak mau Pak, aku mau ke Banten". Bapak tak berkomentar apapun atas jawabanku. Rasa ingin ini benar-benar tak bisa dipungkiri.

Entah apa sesungguhnya yang menggerakkan hatiku untuk pergi kesana. Ya, hanya Allahlah yang mengikatkan hati-hati ini. Hanya Allah jualah yang memberi rasa cinta dan ukhuwah yang dasyat. Hemm, kembali aku berpikir. Bagaimana mungkin aku bisa pergi kesana. Sementara ongkos untuk kesana pun tak ada. Gaji mengajarku belum dibayarkan. Apalagi kiriman dari Bapak sudah habis digunakan untuk keperluan lain. Hmmm........


Aku kembali kukuhkan keinginanku. Aku katakan, bahwa aku beda dengan Kakak dan Adikku. Teringat kata seorang sahabat, bahwa untuk sukses itu harus berani menjelajah. Kata itulah yang membuat aku ingin segera membuktikan kepada mereka yang menganggapku kerdil. Hari demi hari pun berlalu. Aku tak bisa perkirakan dengan baik soal waktu, kapan akan benar-benar berangkat ke Banten. Ketika rasa rindu ini sudah menyapa, aku pun ingin memutuskan pergi sendiri. Tapi lagi-lagi Bapak tidak mengijinkan saat aku minta ijin pergi sendiri. Hmm, aku menangis saat itu kawan. Sedih rasanya. Keinginanku harus tertunda. Tapi aku sadar, bahwa inilah yg terbaik untuku. Larangannya mungkin menyakitkan bagiku. Tapi keputusannya benar. Itu menandakan Bapak sayang padaku. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada putrinya.Walau dengan bahasanya yang mungkin sulit kumengerti. Baiklah Pak, aku tunduk padamu. Karena hanya pada beliaulah aku berharap. Toh salah, kalau aku benar-benar pergi. Bapak hanya mengatakan "kamu boleh pergi asal ada temannya. Kalau sendiri, gak usah!".


Yah, aku masih sabar menunggu temanku yang hendak membersamai perjalananku. Ternyata dia baru bisa pergi hari kamis dan akan kembali hari ahad. Sempat kecewa sih, karena tidak bisa menikmati liburan panjang...hehe. "Yah, tak apalah", pikirku. "Yang penting kita bisa sampai sana, walau hanya 2 atau 3 hari saja", tambahku padanya. Hanya untuk sebuah ukhuwah yang mengagumkan. Namun ternyata semua diluar rencana. Hari Rabu siang, dia mengirim sms ke Hp ku. Mengajakku untuk pergi saat itu juga. Padahal saat itu aku baru di kampus, sedang ada kuliah. Antara bingung dan benar-benar bingung. Tanpa pikir panjang lagi, aku balas "ya, kita berangkat sekarang". Jam 13.00 aku meningglkan kampus, dan menuju rumah. Belum juga aku mengepak barang yang mesti kubawa. Jam 13.30 aku selesai mengepak barang seadanya. Dan selesainya, kami berdua menuju terminal Jogya. Setahu kami bus menuju Banten hanya ada pukul 14.00. Sesampai di terminal, kami kebingungan mencari agen bus menuju Banten. "Wah mb, kita terlambat", kataku pada temanku. Kami benar-benar bingung. Sampai nafas kami terengah-engah menaiki tangga hanya untuk mencari agen. Alhamdulillah, setelah bertanya pada agen, ternyata bus yang akan kami tumpangi baru akan berangkat pukul 14.30. Kami lega, akhirnya kami akan melakukan perjalanan juga :). Tapi, kami dikejutkan dengan tarif yang tidak kami duga sebelumnya. Wuih, banyak banget ditariknya. Aku agak sebel juga sih, tapi mau bagaimana lagi. "Kita harus tetap berangkat", kataku dalam hati. Aku bilang sama temanku "Mb, tar yang punya rumah suruh mengganti tiket pulang kita", kataku sambil bercanda ria.


Setelah cukup lama menahan lelah dan menunggu. Akhirnya tepat pukul 15.00 perjalanan kami mulai. Tiba-tiba Hpku berbunyi. Ternyata ada telpon dari Bapak. "Lagi dimana?", tanyanya padaku. "Perjalanan ke Banten Pak", jawabku. "Sama siapa?", tanyanya kembali. "Sama teman, Mb Ari", jawabku lagi. Dan Bapak cuma berpesan "Ya udah hati-hati". Hoho....sampai-sampai aku belum sempat ijin ma Bapak. Untung beliaunya gak marah. kalau marah giman tuh. Padahal aku sudah didalam Bus....hehehe.


(menikmati perjalanan.com) sambil ngerumpi...hahaha. "Hmm, lama juga ya nih perjalanan", pikirku. "Tiba-tiba ada sms masuk dari adikku". "Wealah, lagi-lagi aku kena marah gara-gara modemnya aku bawa ke Banten". Hmm, di dalam bus aku jadi tidak tenang. Benar-benar perjalanan yang tidak nyaman. Lum lagi dengan sangat terpaksa, aku harus meninggaklan beberapa agenda. akhirnya aku ijin tidak mengajar dulu. Hmm, berat sih rasanya membawa segudang persoalan dalam perjalananku. Lum lagi tiba-tiba sms yang isinya bsok aku harus presentasin di kampus. Wuih, pikiranku benar-benar gak tenang. tp mau gmn lagi, kucoba tuk menikmati perjalanan ini, dan melupakan sejenak tentang semua itu. maafkan semuanya, jika aku telah mengecewakan kalian. "Cukup sekali ini saja, selebihnya aku akan patuh pada aturan", janjiku saat itu....ckckckc


Tiba-tiba bus berhenti pada pemberhentian bus. Kami berdua turun untuk menunaikan sholat maghrib dan isya'. Setelah sholat, rasa lapar diperut benar-benar sudah tak tertahankan. Yah, karena siang tadi belum sempat makan, karena saking terburu-burunya mengejar bus. Akhirnya, untuk memenuhi panggilan perut, Kami memesan yang hangat-hangat. Aku beli soto dan tes panas, sementara temanku membeli bakso. Pada giliran membayar, hmm, kaget. Soto, nasi dan teh panas dihargai Rp. 14.000,00. "Wah-wah, kalo begini caranya bisa tekor", kataku. Ya sudahlah, ini menjadi pengalaman berharga buat kami.


Lanjutkan perjalanan...........malam semakin asyik saja. ngobrol dan menikamti tidur yang pulas. Rasanya udah gak sabar pengen segera sampai tempat tujuan. Tanpa tersadar, jam sudah menunjukkan pukul 04.30 pagi. Kami terbangun dari tidur panjang dan segera menunaikan sholat subuh di dalam bus. "Wah berapa jam lagi ya kita sampai", tanyaku pada temanku. Akhirnya, setelah ditunggu-tunggu kami sampai juga di daerah terminal Serang. Hmm, ternyata bus yang kami tumpangi kebablasan. Sehingga kami harus jalan kaki menuju terminal Serang yang jaraknya sekitar 200 m dari kami turun. Yah, itung-itung olahraga pagi..hehe. Sesampai di terminal, sesuai dengan sms yang kami terima. Kami harus naik bus bernama ASLI atau MURNI, pokoknya kalau bukan itu jangan mau naik. Bus yang kami tunggu-tunggu pun belum juga datang. Dan saat itu juga, ada seorang kernet yang menawari kami menuju cisata. Ya, itu tempat tujuan kami. "10.000 ke Cisata", katanya pada kami. Tanpa pikir panjang, dan segera ingin bertemu seseorang. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk naik mini bus yang ditawarkan tadi. "Gpp ya mb, toh tarifnya sama, 10.000", kataku padanya. Dan akhinya kami naik dan duduk dibarisan depan.


Seneng sih bisa duduk dibarisan depan. Artinya kami bisa menikmati pemandangan dengan jelas. Tapi kami benar-benar terganggu dengan sopir itu. Wah, rokoknya itu gak nguatin. Sebatang sudah dihabiskan, E malah nambah lagi. Kalau tidak salah selama perjalanan kami, dia menghabiskan 4 batang rokok. Aku benar-benar pengen muntah. Dan terpaksa deh, didalam bus harus menutup hidung dengan tissue. Perjalanan diperkirakan sekitar 1 jam. Hmm, lama juga ya. "Rumahnya benar-benar pelosok", pikirku...hahaha. Dan menurut informasi, setelah sampai Cisata harus ngojek lagi sekitar 10 menit hingga sampai rumahnya. Tidak kebayang deh, pelosok..sok..sok...hahaha.


Diperjalanan kami sempat bercerita dengan si Sopir. "Hemm, ternyata Banten kebuh duren juga to", kataku dalam hati. Ditengah perjalanan, pak kondektur menarik kami uang. Sesuai perjanjian diawal, ke Cisata Rp. 10.000,-. Tapi tiba-tiba Bapaknya bilang "tambah Rp.10.000 lagi neng". "Hmm, giman sih ni Bapak", pikirku. Kami pun menjawab "Emoh Pak, tadi bilangnya Rp. 10.000,-". Awalnya Bapaknya maksa kami terus. Dan karena kami tetap ngotot, akhirnya Bapaknya yang ngalah. Perjalanan masih 30 menit lagi. Kami berdua didalam bus semakin tidak tenang. Hmm, kami sudah membohongi teman kami, kalau kami tidak jadi maen. Dan karena kasihan, akhirnya kami jujur. "Kami 10 menit lagi sampai Cisata". Dan dia mau menjemput di depan pertigaan cisata kananga. Hmm, lagi-lagi kami kebablasan lagi. Padahal dari awal kami sudah bilang kalau turun di cisata kananga. Oalah, dasar si sopirnya bukan orang Banten asli, jadinya katanya dia tidak tahu. Hmm, akhirnya berhenti deh. Kami disuruh ngojek aja. Hmmmm.........akhirnya, kami singgah di sebuah masjid, dan meminta teman kami untuk menjemput kami. Ah senangnya, bisa sampai disini juga bertemu dengan saudariku...:).

Sms Hikmah SaudaraQ

Barang siapa di pagi hari bersedih karena urusan dunia, maka sungguh di pagi itu dia tidak puas dengan ketetapan Allah. -nashaihul 'ibad hal45'

Barang siapa memenuhi kebutuhan manusia di dunia, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya di dunia dan di akherat.

Merasa sukupkah dengan apa yang engkau miliki dengan tidak meminta kepada orang yang engkau kehendaki. niscaya kau akan seperti dia. (Ali bin abi tholib).

Allah Maha tau isi hati kita, kunci ingin dekat dengan Allah adalah kejujuran & kemurnian di lubuk hati terdalam, tak boleh ada kepalsuan sekecil apapun.

Ya Allah jadikanlah malam ini & hari esok wujud hari yang penuh berkah bagi saudaraku. Mudahkan segala urusannya,jadikan ikhlas dalam tiap tarikan nafasnya. Agar setiap aktivitasnya bernilai ibadah Pada Mu. Luruskan Niatnya. Lindungi dia dari hal-hal yang buruk, Berikan kebahagiaa dan RidhaMu pada kehidupannya, Jadikanlah dia orang yang sukses Dunia dan Akherat. AMin. By: 081328145***

Terkadang diri ini terasa berat untuk beraktivitas amal kebaikan..untuk beribadah..dan untuk berdakwah. Semua itu tanda hati kita masih banya belenggu dan melakukan maksiat pada-Nya. Jika merasa begitu, taubatlah segera dan teruslah BERGERAK.

Allah berfirman 'manusia menyakiti-Ku, mereka mencela waktu, Akulah (pengatur) waktu. Di tangan-Ku semuaperkara. Aku membolak-balikkan malam dan siang". shahih muslim: 2246

Ketika kita mengharuskan semua yang ada di depan mata kita sempurna. maka kita harus muhasabah, jangan2 kita adalah manusia paling tidak sempurna.

Wahai dunia, jika esok kudapati kelopak mataku tak lagi membuka untuk menatap mentarimu, sudah ikhlaskan aq untuk meninggalkan segala benda yang pernah kumiliki?. Duhai akherat, jika ternyata malam ini engkau diam2 kan menyambut ruhku, sudah cukupkah bekal amalanku dari apa nerakamu?. Andai aku tahu bahwa hari ini adalah yang terakhir, niscaya aku akan serahkan setiap detik yang ku punya untuk mengemis pengampunan Rabbku. Sungguh, aku telah lalai dan teramat jauh terlupa. Bahwa diri ini penuh nista. *muhasabah untuk menutup hari ini agar menasehatiku dan sahabat2xku. Mohon maaf atas segala khilafku padamu. 081328836***

Allahlah yang membuatmu mampu tersenyum walau menangis. Untuk bertahan saat dirimu merasa ingin menyerah. Untuk berdo;a saat dirimu kehabisan kata-kata. Untuk mencintai walau hatimu hancur berkali-kali. Untuk mengerti walau tak satu pun yang kelihatan memberi arti. Segalanya menjadi mungkin, karena Allah membuatmu mampu untuk berbuat itu. Tetap semangat bahagiakan umat. 0852879*****

Milikilah sebuah hati yang tak pernah membenci,sebuah senyuman yang takkan pernah pudah.Sebuah sentuhan yang takkan pernah menyakiti. dan sebuah persahabatan yang takkan pernah verakhir. met istirahat saudariq..mb yanuk

Semakin berharap kepada selain Allah maka hati akan semakin gelisah, semakin tak berharap apapun dari siapapun selain Allah, maka hati akan semakin tenang dan nyaman. 085722511***

barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi kebutuhannya (AtThalaq 3), semakin ragu dan berpaling dari Allah semakin merasa kurang, tak pernah cukup. 085721929***

Ya Allah..Sampaikanlah salam maafku pada sahabatku. Jika ku terdapat kesalahan. Jika ku menodai hati dan fikirannya. Jika ku merusak hari-harinya. Sehingga tidak ada lagi keresahan dalam kultur jiwa. Ampunilah dosa-dosa kami. rahmatilah kami di jalanMu.08564*******





Hati...hati...dengan...hati

Apa kabar hati?, masihkah kau berselimut cinta?. Masihkah kau bisikkan kata rindu?. Juga kata maaf untuk ia yang ingin setia bersamamu.
Atau kau telah berubah mendung. Semendung awan yang menjadikan turunnya hujan. Sebagaimana mata yang mengucurkan air matanya. Untuk kau kabarkan kalo kau sedang menangis.
Wahai hati, kulihat begitu bahagiannya engkau. Walau menunggu adalah sebuah alasan yang membuat kau semakin yakin. Dan rindumu menjadikan seperti ombak yang ingin menghantam karang. Begitu besar rindu yang ingin kau kabarkan. Juga seperti pijaran lampu yang ingin menerangi dunia ini. Walau kecil, tapi kau ingin dunia menikmatinya.
Tapi lagi-lagi kulihat kau berubah panik. Kau berubah kembali dengan suasanamu yang lalu. Yang menghakiminya dengan keadaanmu yang tak menentu.
Apa yang ingin kau sampaikan wahai hati?. Kau semakin membuat aku berpikir hebat. Oh, begitu dasyatnya engkau. Membohongiku dengan caramu yang tak pernah ku mengerti.

Untukmu Saudara/i ku

Untuk sebuah hati yang tidak pernah letih dari do'a. Untuk sebuah jiwa yang tak pernah lepas dari SUJUD-Nya. Hamba hanya memohon padaMu ya Rabb. Jaga, bimbing, cintai SAUDARA/I ku, muliakan ia dihadapanMu, iringi langkah & niat ikhlasnya dengan ridhaMu, jauhkan dari kedzaliman, lindungi dimana pun kami berada, jaga dalam kesehatan, mudahkan dalam setiapurusan &isriqomahkan dijalanMu. Semangat pagi.
By: 081328836***


Memerdekakan Kaum Perempuan ‘Perempuan Berpendidikanlah !’

Mengenang sosok seperti R. A Kartini tentunya sebagai perempuan kita sangat bangga. Sebagai wujud mengenang perjuangan beliau, setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Karena beliaulah, kini emansipasi perempuan telah dimerdekakan. Perempuan menjadi memiliki peluang yang cukup besar dalam mengambil peran pada setiap aktivitasnya. Perempuan menjadi bebas dalam memainkan hak-haknya sebagai kaum perempuan. Namun ketika saya menyimak berita ‘Putus Sekolah DiDominasi Perempuan’ (KR, 19 April 2010 hal 2), penulis cukup prihatin. Diberitakan bahwa angka putus sekolah dan buta huruf ternyata masih didominasi oleh anak-anak perempuan. Hal itu tentu melengkapi catatan kekerasan yang sering muncul dewasa ini. Baik yang terjadi pada perempuan dewasa, juga anak-anak.

Adakah yang salah dengan diri perempuan kita?. Walau ikrar kesetaraan gender sudah didengungkan dimana-mana. Sepertinya penderitaan bagi perempuan belum cukup sampai disini. Apakah wanita masih dipandang sebagai ‘konco wingking’ oleh kaum laki-laki?, atau bagaimana?. Menurut pengamatan penulis, tentu sudah tidak begitu adanya. Laki-laki sudah mulai mengghormati hak-hak perempuan yang juga memiliki peran yang sama, terkhusus dalam hal berpendidikan. Terlebih juga dalam pemerintahan. Kuota 30 persen telah diberikan untuk perempuan. Artinya, perempuan pun memiliki kesempatan terjun didunia politik. Kesempatan untuk berkarya dan mengembangkan dirinya seluas-luasnya.

Persoalan banyaknya anak perempuan yang putus sekolah, tentunya disebabkan berbagai faktor. Penulis berpendapat bahwa faktor tersebut meliputi faktor sosial, budaya, dan ekonomi. Akan tetapi, nampaknya faktor ekonomi merupakan faktor utama penyebab terjadinya kondisi tersebut. Kondisi ekonomi yang rendah, tentu lebih memperhitungkan laki-laki untuk sekolah ketimbang perempuan. Kondisi ini, dimungkinkan merupakan dampak dari masa lalu, dimana perempuan dewasa banyak yang juga tidak bersekolah. Sehingga pola pikir yang terbentuk juga demikian adanya. Lagi-lagi alasan ekonomi sering menjadi hambatan bagi sebagian besar orang untuk berkarya.

Di Negara yang semakin maju ini, tentu pola pokir bangsa ini pun sudah meluas. Berbagai upaya dari pemerintah dalam mengatasi hal ini tentu sudah banyak diupayakan. Misalnya, dengan berdirinya lembaga-lembaga non formal yang dikhususkan untuk menampung mereka yang tidak tertampung dalam pendidikan formal. Seperti, Balai Latihan Kerja (BLK), progam kejar paket, atau lembaga non formal lainnya.

Di lembaga tersebut, tentunya selain mendapatkan kesempatan untuk berpendidikan, mereka juga diberikan bekal life skill, yang harapannya dapat membantu mereka untuk hidup mandiri kelak. Persoalannya adalah, apakah kesadaran dari tiap individu itu sudah terbangun?. Jika belum, tentu berdirinya lembaga-lembaga diatas tidak akan mampu menyelesaikan masalah tersebut. Ada dua hal yang mungkin terjadi. Bisa jadi banyak orang belum mengetahui keberadaan lembaga-lembaga tersebut, atau orang sudah tahu, akan tetapi kesadaran pribadi yang rendah.

Jika alasannya belum tahu keberadaanya lembaga tersebut, maka, kerja sama dari semua pihak tentu sangat penting. Kepedulian terhadap sesama harus diciptakan. Namun jika disebabkan oleh kesadaran yang rendah, maka sekarang saatnya perempuan bangkit. Perempuan harus menunjukkan dirinya sebagai perempuan yang berwawasan luas, serta berani mengambil sikap dalam menentukan masa depannya kelak. Karena perubahan itu dimulai dari diri sendiri. Maka, perempuan Indonesia ‘berpendidikanlah !’.

Bayangan cita-cita ku masa lalu

Guru, tentu itu menjadi cita-citaku sejak kecil. Maklum, kedua orang tuaku adalah seorang Guru. Jadi tidak salah, jika secara tidak langsung hal itu tertanam pada diriku sejak kecil. Saat aku kecil, pernah aku menyampaikan keinginanku kepada Ibu untuk menjadi polwan (polisi wanita). Ada rasa bangga saat itu. Tapi seketika raut mukanya kulihat memelas. Kemudian ia berkata “Nak, menjadi polwan itu tidak mudah. Latihannya keras”. Seketika itu, aku pikirkan apa yang Ibu sampaikan. “Mungkin benar yang Ibu sampaikan. Ibu kasihan melihat aku jika harus berjuang keras untuk latihan”. Kembali aku bercita-cita jadi Dokter. Bagiku menjadi Dokter itu hebat. Bisa membantu banyak orang dan cerdas. Aku tidak lagi menceritakan keinginanku ini. Aku hanya melakukan yang terbaik untuk meraih cita-citaku.

Saat aku SD, aku diberi kesempatan untuk mewakili sekolahan mengikuti Dokter kecil. Dengan berpakaian ala Dokter, aku praktek layaknya Dokter sungguhan. Semakin aku yakin, kelak aku menjadi Dokter. Pernah ibu menceritakan padaku. “Nak, kalau kamu mau jadi Dokter kamu harus berani. Kamu tidak boleh takut dengan darah. Kamu tidak boleh takut dengan mayat. Nanti kamu akan dites, disuruh makan di WC, bla…bla…bla”. Hem, aku berpikir lagi. Sejak saat itu aku berlatih untuk tidak takut. Saat kudapati Ibu yang aku cintai berkali-kali masuk rumah sakit. Aku berkata pada diriku “Bu, aku akan menjadi Dokter dan menyembuhkanmu”.

Aku temukan lagi bakatku saat itu. Ternyata aku dianggap pandai melukis. Apalagi ketika Guru melukisku memberikan nilai 8 untuk lukisanku. Padahal seumur-umur belum ada yang mendapatkan nilai bagus dari guru yang satu ini. Karena Guru ini super mahal untuk urusan nilai. Saat itu, aku diberikan kepercayaan untuk mewakili sekolah mengikuti lomba melukis. Dan Alhamdulillah, aku mendapat juara.

Saat aku SMP. Semakin tak jelas, keinginanku menjadi apa. Aku hanya belajar dengan baik, agar kedua orang tuaku tidak kecewa. Kembali aku diingatkan dengan cita-citaku. Saat itu, aku diberi kesempatan untuk menjadi petugas keamanan sekolah (PKS). Tugasku adalah layaknya seorang polisi yang mengatur jalannya lalu lintas. Setiap pulang sekolah, aku sudah berdiri di tengah jalan dengan beratribut layaknya polwan untuk membantu menyebrangkan teman-temanku. Yah, aku seperti telah menjadi Polwan sungguhan. Apalagi saat bisa berkempatan menjadi dewan Ambalan Pramuka. Aku kembali yakin “Aku akan jadi Polwan”.Tak puas dengan kegiatan pramuka, aku mengikuti PMR. Dan sekali lagi aku katakan “aku akan menjadi Dokter”.

Sewaktu di SMP, aku seperti sudah menjadi langganan untuk membacakan UUD disaat upacara setiap hari senin. Katanya suaraku lantang. Hemm, berarti aku pantas menjadi polwan, pikirku seketika. Tiba-tiba aku dikejutkan ketika dinyatakan memenangkan lomba pidato Isra’ Mi’roj. Pada saat upacara bendera, aku diminta untuk membacakan pidato yang aku buat. Seketika, akh………..apa aku akan menjadi utadzah??.

Ketika aku SMA, aku tak tahu lagi hendak menjadi apa nanti. Masih ada keinginan untuk menjadi Dokter. Hal itu karena aku ingin bisa membantu menyembuhkan penyakit Ibuku. Saat penjurusan, aku merasa bangga, karena aku bisa masuk IPA. Itu berarti kesempatanku untuk masuk Dokter sudah ada jalan. Ternyata semua tidak seperti yang terbayangkan.

Aku sudah harus kuliah. Aku dibingungkan untuk memilih Jurusan. Kedua orang tuaku menginginkan agar aku bisa meneruskan perjuangan mereka menjadi Guru. Namun saat itu aku tidak diterima di PGSD. Aku kembali teringat dengan kemampuanku menggambar. Saat itu aku ingin sekali menjadi arsitektur. Apalagi aku sangat senang dengan desain rumah. Aku mantap untuk memilih arsitektur. Tapi ternyata aku belum berkesempatan disitu. Aku teringat dengan hobby memasakku. Sempat aku ingin mengambil jurusan tata boga. Akhirnya aku tidak jadi mengambil, “Ah, untuk dapat masak saja kenapa harus sekolah tinggi-tinggi”, pikirku saat itu.

Dan kini aku diterima di PLS. Aku bangga, walau masih sedikit ragu aku akan menjadi apa nanti. Tapi aku tetap optimis, aku bisa. Sejak duduk di bangku kuliah, Penelitian telah mengubah hidupku. Setelah diberikan keprcayaan untuk menjadi ketua penelitian fakultas, aku berjuang hebat. Hingga akhirnya aku bisa mendapatkan apa yang aku impikan. Yaitu merasakan berjuang di ajang PIMNAS. Walaupun itu singkat, aku masih berharap ada kesempatan lagi untuku. Aku rindu merasakan berkompetisi lagi.

Bagiku di bangku kuliah adalah kehidupan yang menyenangkan. Aku belajar banyak hal pada orang-orang disekelilingku. Alhamdulillah juga, aku sempat bergabung dengan jurnalistik. Sejak saat itu, aku menyukai dengan dunia menulis. Tulisan pertamaku yang dimuat di KR beberapa tahun lalu menghidupkan semangatku. Aku ingin menjadi penulis besar kelak, pintaku saat itu.

Kini aku masih mencoba meraba kembali. Aku ingin menjadi..???. Jika aku diberi kesempatan oleh Allah untuk meminta. Maka aku ingin dikenal sebagai penulis dan peneliti pendidikan, sebagai pendidik PNFI, sebagai pemilik rumah makan, dan sebagai pemilik lembaga PNFI. Amin.

Teringat dengan buku yang ditulis AA Gym. Kamu harus kaya. Akupun ingin seperti itu. Ada cita-cita mulia yang ingin sekali aku bagi pada mereka yang membutuhkan. Bagaimana aku akan bisa memberi, jika aku tidak kaya. Kaya yang disampaikan AA Gym, bukan sekedar kaya secara materi saja. Namun kaya hati, ilmu, materi, dll. Begitu juga dengan proses yang sedang aku lalui. Aku harus KAYA………

Kecup Rindu, Ia di Syurga

Pagi mencengkeram indah. Diantara balutan desir angin yang menusuk kalbu. Tuhan, aku rindu ia. Wanita perkasa yang tak pernah letih untuk berjuang. Berjuang diantara hidup dan mati. Melewati hari-hari bersama selang-selang kecil yang melilit ditangannya. Wanita yang mencoba bertahan hidup dengan mesin hemodalisa. Oh, ku tak kuasa saat engkau menitihkan air mata. Menjerit bertahan diantara rasa sakit itu. Saat malam datang, kau tunaikan tahajudmu. Kau pinta pada Tuhan, agar ia memberi kehidupan yang lebih panjang.

Ketika subuh datang, kau telah siap bergegas menuju kota Yogyakarta. Kota yang saat itu sudah tersedia mesin hemodalisa (cuci darah). Tepatnya di RS Sarjito. Dinginnya pagi tak pernah mampu menyurutkan semangatmu. Karena nyawamu ditentukan oleh keberadaanmu disana. Sekali saja kau langgar itu, akibatnya bisa fatal. Bersama kekasih hati, kau pergi ke kota itu. Dialah Ayah, sosok yang begitu sabar dan setia menungguimu. Yang tak pernah letih menemani hari-harimu.

Desiran darah mengalir dari tubuhmu. Lewat selang-selang kecil, aku melihat darah itu mengucur deras Merah pekat, itulah yang kulihat. Detum jantungmu berdetak kencang. Tubuhmu seakan berguncang hebat. Tenanglah, kami disampingmu menungguimu.

____________________________________________________________________________________

Masih teringat dalam benakku, saat Dokter memvonismu untuk cuci darah. Dokter hanya berkata “cuci darah untuk 15 kali saja”. Kau jalani hari-hari itu dengan sabar. Aku pun begitu. Tak sabar rasanya melihat kau sembuh dan bahagia bersama kami. Menuntaskan amanahmu sebagai seorang Ibu. 15 hari telah berlalu. Ketika Dokter ditanya, ia tak mampu memberikan jawaban. Katanya, “silahkan melanjutkan cuci darah”. Ya Rabb, hati ini menangis. Aku tak kuasa melihatnya. Tubuhnya semakin hari semakin kurus dan menghitam. Nafasnya yang semakin melambat. Tenaganya pun mulai melemah. Oh tidakkkkkkkkkkkkkkkk. Hampir 3 tahun engkau berjuang bersama cuci darah. Bertahan hidup bersama obat-obat dan mesin hemodalisa. Namun, apalah arti dari perjuangan itu. Jika kematian adalah akhir dari perjuanganmu.

Satu minggu lagi kan kujumpai Idul Fitri. Teringat saat 2 kali aku merayakan hari Idul Fitri itu di RS Sarjito bersamamu. Karena saat itu, kami sekeluarga mesti menungguimu cuci darah. Ya, memang tidak ada yang membahagiakan saat merayakan Idul Fitri di RS. Namun, tidak ada yang lebih membahagiakan lagi, kecuali memiliki keutuhan bersamamu.

Tapi, walau takdir telah berkata lain. Aku sangat-sangat bangga memilikimu. Sosok luar biasa yang pernah menginspirasi hidupku. Kenangan bersamamu adalah nyata. Belajar darimu adalah kemegahan yang kau tinggalkan. Kini, tak ada lagi orang yang menyuruh-nyuruhku untuk mengerjakan urusan rumah tangga. Tak ada lagi orang yang memuji masakanku. Juga tak ada orang yang akan memarahiku jika aku salah. Tapi itu semua adalah pelajaran yang sangat berharga buatku untuk meniru ketegaranmu. Membuat aku sadar tentang apa yang harus aku lakukan.

Aku bangga, saat dalam kondisi sakitmu kau masih ingat dengan pekerjaan muliamu sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Dalam satu minggu, 2 hari kau habiskan untuk cuci darah, sementara sisanya kau bersamai anak-anak itu. Tentu, jasamu tidak akan pernah terlupakan. Kau didik ia menjadi manusia super penuh ilmu. Dan kalau kau tahu, kini anak-anak itu telah tumbuh dewasa bersama ilmu yang kau tularkan.

Begitu juga dengan 3 puterimu ini yang juga telah tumbuh dewasa. Puteri pertamamu sudah menikah dan telah memiliki seorang putera. Puteri ketigamu masih berkutat dengan perkuliahan. Sementara aku, Aku telah menyelesaikan S1. Dan kini masih berjuang untuk menuntut ilmu kembali. Dan pasti engkau akan bangga jika ada disini. Menemani hari-hari dengan kelembutan dan kasih sayang dari anak-anakmu.

Kau yang ku rindu,

Jika Tuhan memberi aku permohonan dan jika permohonan itu pasti dikabulkan. Maka aku akan memohon agar ia mengembalikan engkau ditengah-tengah kami.

Kau begitu hebat. Kau ajarkan kami ilmu-ilmu Allah yang sebelumnya belum kami mengerti. Tidak ada yang lebih hebat dari seorang Ibu, kecuali keberhasilamu menjadikan kami sebagai anak-anak yang sholikhah. InsyaAllah……

Dan InsyaAllah, walau kami tak mampu lagi mendekapmu, pastilah do’a-do’a kami tak tak henti terlantun untukmu. Kan ku antar engkau di Syurga dengan do’a-do’a anakmu ini.

Rasulullah Saw, bersabda, “Jika seorang anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal, sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang senantiasa mendo’akannya” (H.r. Muslim).

InsyaAllah, kau miliki itu semua. Dan kelak, semoga kita akan kembali dikumpulkan disyurga-Nya. Amin


Selamat jalan Ibu, semoga surga menjadi istana peristirahatan terbaikmu. Semoga sakitmu meringankan dirimu. Karena engkau wahai Ibu, tetap menjaga shalatmu hingga maut menjemputmu.

ditulis: Kebumen, 9/3/2010/4:22

REFLEKSI PENDIDIKAN KITA

Mari kita bertanya pada bangsa ini?. Apakah pendidikan kita sudah berhasil mencetak orang-orang yang berkualitas?. Ada sebuah cerita dari teman saya. “Ada seorang anak desa, ia begitu rajinnya memberikan makan untuk hewan ternaknya. Tak perlu disuruh, dengan senang hati ia mencarikan rumput sehabis pulang dari sekolah dasar. Namun ketika ia menginjak SMP, ia hanya mau mencari rumput ketika disuruh oleh orang tuanya. Menginjak SMA, ia sama sekali tidak lagi mau mencarikan rumput.” Kemudian teman saya bertanya. Adakah yang salah dengan arah pendidikan kita?. Mengapa semakin tinggi pendidikannya, ia semakin jauh dari kehidupan lokal yang telah membesarkannya. Padahal, dulu ia begitu rajin mencarikan rumput untuk ternaknya. Ia sadar, kalau ternak adalah satu-satunya bagi kelangsungan hidupnya dan keluarganya.
Namun mengapa kini demikian?. Nampaknya ada pergeseran nilai dalam pendidikan kita. Idealnya, pendidikan menjadikan kita semakin bangga akan kehidupan lokal. Bukannya menjauhkan dari nilai-nilai lokal yang selama ini tumbuh.

Ada 3 pilar pendidikan yang seharusnya tertanam pada diri siswa, yaitu 1) keilmuan, 2) moral, 3) beauty (rasa keindahan). Sekolah seharusnya dapat menanamkan ketiga hal itu pada diri siswa. Jelas, bahwa tujuan dari sekolah adalah mendidik siswa agar bertambah ilmunya. Yang tadinya tidak tahu menjadi tahu. Yang tadinya tidak bisa menjadi bisa. Tapi apakah keberhasilannya sudah terukur dengan baik?.

UAN yang dijadikan patokan pun masih menjadi kebimbangan bagi sebagian besar orang. Bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya dapat diukur dari nilai. Tetapi aspek kecerdasan yang lain.
Sementara moral?. Walau sudah banyak sekolah yang menerapkan pendidikan moral bagi siswa, kenyataan di lapangan masih banyak kita jumpai hal-hal anarkis?. Misalnya: perkelahian, pembakaran gedung, mogok sekolah, demo kepada gurunya, pemakaian narkoba, dsb. Itu artinya, bahwa penanaman moral belum tertanam dengan baik. Karena siswa cenderung memilih hal-hal yang anarkis, ketimbang menyelesaikannya dengan cara damai dan harmonis.

Sementara keindahan artinya adalah pendidikan seharusnya mampu menanamkan nilai-nilai budaya sosial. Nilai-nilai budaya lokal. Menumbuhkan kecintaan pada nilai lokal dan budayanya. Seperti cerita di atas, bahwa seharusnya sekolah bisa tetap mempertahankan siswa untuk tidak malu pada keadaan.
Berbagai upaya sepertinya telah dilakukan. Seperti pergantian kurikulum, menstandarkan semua pendidik S1 atau S2 dan tersertifikasi, juga penyediaan fasilitas yang lengkap. Lantas mana yang perlu diperbaiki kembali?.

Model sekolah seperti apa yang mampu mencetak siswa yang memiliki 3 kriteria di atas?.
Apakah sekolah yang dibangun dengan megah?. Dengan gedung bertingkat, ruang yang luas dan fasilitas yang lengkap?. Atau mungkin sekolah yang berbasis alam dengan fasilitas seadanya lebih baik?. Atau model sekolah pesantren?. Menurut anda?.

Tentu keberhasilan sebuah pendidikan tidak lepas dari 3 komponen, yaitu 1) Peran Pendidik/Guru, 2) Peran keluarga, 3) Peran Masyarakat. Ketiganya harus bersinergi dengan baik. Karena pendidikan yang baik berasal dari masyarakat yang baik. Yang didalamnya terdapat keluarga dan orang-orang/pendidik yang baik pula.

Kemudian pertanyaannya, peran seperti apa yang seharusnya orang tua dan pendidik lakukan?. Apakah anak seharusnya diarahkan atau dibiarkan menuruti keinginannya sendiri?. Dimanakah seharunya peran pendidik dan orang tua?. Sekedar motivator, pengambil keputusan, atau apa?.

Lantas, apakah pendidikan kita telah berhasil mencetak para lulusan yang berkualitas dan yang mampu diserap di dunia kerja?. Menurut saya, hard skill memang penting. Namun bukan segala-galanya. Karena di luar sana, orang lebih membutuhkan mereka yang memiliki hard skill dan soft skill. Maka, mari kita untuk membekali diri kita dengan soft skill lain.

Salam optimis dan sukses.
Yogyakarta, 16/10/2010. Ketika saya gelisah dengan nasib pendidikan ini.

Kuasai Bahasa, Takhlukkan Dunia


Saya gelisah. Yah, kegelisahan selalu membuat kita berpikir HEBAT untuk menemukan solusi. Kegelisahan kita, menandakan ada sesuatu yang BESAR yang ingin kita perbaiki. Itulah konsep yang melekat pada diri saya.

Kegelisahan akan selalu bisa membuat kita KUAT, membuat kita HEBAT, membuat kita TEGAR, dsb. Karena kita berusaha menemukan solusi untuk diri sendiri.

Kita semua punya mimpi. Begitu juga dengan saya. Ingin rasanya saya takhlukkan dunia ini. Mungkin terlalu idealis dan tinggi. Tapi tak mengapa, bukankah mimpi kita HARUS tinggi bukan?. Selagi bermimpi itu belum dilarang. Betul khan…??!.

Judul diatas menjadi topik utama pembahasan saya.

Setelah sekian lama saya merenung dan dihadapkan pada permasalahan ini. Kini sudah ada sedikit titik terang. Kadang saya iri, dengan mereka yang berkesempatan menjadi hebat. Yang berkesempatan mendapatkan beasiswa ke luar negeri, jalan-jalan ke luar negeri, menjuarai lomba-lomba, dsb. Mereka tampak hebat dihadapan saya.

Kemudian saya mencoba mengkritisi apa yang sebenarnya ada pada diri mereka. Ternyata, mereka menguasai bahasa. Bahasa yang saya maksud ini begitu luasnya. Bukan sekedar bahasa Inggris, Arab, atau Jerman. Namun, lebih kepada bahasa Jurnalistik (baca: menulis) yang menurut saya sangat penting. Walaupun, pada akhirnya kedua-duanya harus seimbang dan tidak dapat dipisahkan.

Kenapa harus bahasa?. Setelah saya amati, para orang-orang hebat itu lebih dikenal karena apa yang mereka tulis, bukan apa yang mereka lakukan. Seperti Ibu kita Kartini. Tentu kita semua kenal bukunya yang berjudul “Habis gelap, terbitlah terang” bukan?.  Padahal ada 2 wanita hebat pada era itu, R.A Kartini dan Cut Nyak Dien. Hanya saja, R.A Kartini menulis sementara Cut Nyak Dien tidak….xixixi. Mau?. Secara tidak  sadar, ada banyak keajaiban yang bisa kita dapatkan dari menulis.

Begitu juga dengan orang-orang pintar yang bergelar Doktor atau Professor. Sebelum akhirnya mereka dinyatakan lolos mendapatkan beasiswa, mereka menulis rencana tesis/disertasi. Yang itu menjadi pertimbangan penilaian tim seleksi. Begitu juga dengan pemenang lomba keilmuan. Itu karena mereka menulis.

Saya jadi teringat ketika bisa berkesempatan ke Pontianak, dengan pesawat gratis pula. Atau waktu di kompetisi di Semarang. Itu karena saya menulis. Atau saudara saya yang berkesempatan dipanggil langsung oleh Presiden. Itu karena dia menulis. Juga saudara saya  yang menulis cerpen tidak lebih dari 1 jam, hanya 2 halaman, yang akhirnya mendapat hadiah 4 juta. Itu juga karena dia menulis. Hem, betapa hebatnya menulis itu. Kemanapun kita inginkan, menulis adalah solusi.

Proses menulis tentu harus diimbangi dengan membaca dan eksplorasi. Maka, dengan ketiga hal tersebut (membaca, menulis, eksplorasi) menjadikan pengetahuan kita bertambah. Dengan pengetahuan yang kita kuasa, kita akan mampu menakhlukkan dunia ini.

Banyak orang-orang hebat di Negara kita, dengan gelar doktor dan professor. Kita akui, bahwa mereka cerdas. Tapi masalahnya, apakah mereka menulis?.

Kutulis selepas bertemu dg para intelektual muda.

Menjadi Istri yang KEREN...”untuk mereka pasangan muda yang sudah atau akan menikah”

Hem, apa yang anda bayangkan sebelum anda akan lebih jauh membaca tulisan ini?. Coba deh, bayangkan tentang ISTRI KEREN persepsi anda.
Mungkin aneh ya, jika saya menulis tema ini. Pasti anda akan bilang ‘loe khan lum NIKAH’. Tapi tak mengapa kan, jika saya ingin berbagi ilmu kepada anda semua. Yah, yang namanya ilmu khan bisa didapatkan dimana saja. INGA….INGA….ilmu yang satu ini bukan maen-maen. Tapi ilmu yang keren abiz, yang bisa buat kamu jadi sadar deh…hehehe.
Pokonya ini hasil ramuan saya. Jadi nggak boleh ada yang protes kalo ntar ternyata nggak sesuai dengan pendapat kamu. Okey?. Yuks kita mulai…1…..2……3…..
Menjadi seorang ISTRI KEREN tentu menjadi dambaan setiap laki-laki. Begitu juga SUAMI yang KEREN akan menjadi dambaan istri. Bukan cuma suami/istri aja lho, tapi juga mertua & keluarga. So, kita sebagai kaum hawa perlu mempersiapkan diri secara matang. Agar kita tidak sekedar menjadi ISTRI BIASA aja. Tetapi super KEREN deh…..:).
Tentu sudah banyak dari kalian yang membaca buku-buku tentang pernikahan dan sebagainya. Disana sudah banyak dibahas hal soal pernikahan. Lha, tapi yang ini BEDA. Saya akan mengajak anda untuk lebih KEREN. Pokonya kalau yang namanya ilmunya, silahkan cari di Buku. Tapi kalo aplikasinya, ikuti saya yuks….
Hal-hal yang terlupakan
Seringkali kita jumpai pernikahan muda. Yah, pasti mereka sudah mempersiapkan segalanya untuk melewati hari-hari berumah tangga. Namun pada kenyatannya, tidak sedikit saya jumpai seorang istri yang tidak pandai mengatur urusan rumah tangga. Padahal kalau menurut saya, itu sangat-sangat penting. Sebagai contoh, ada istri yang tidak bisa masak; tidak bisa mengelola keuangan; tidak bisa mengurusi anak; tidak pintar menata rumah; dsb. Hem, kira-kira apa yang belum anda kuasai?. Harus dipelajari dari sekarang..!!!.
Tentu seorang suami akan senang jika memiliki istri yang serba bisa. Masak pinter, ngurus anak juga pinter, membelanjakan uang juga g’ kalah pinternya. Wou….KEREN abiz.
Sekarang ini kalau para muda-muda ditanya “siap NIKAH?”. Mereka akan bilang “Siap”. Tapi kalau sudah dijejali dengan berbagai pertanyaan soal urusan rumah tangga. Mereka akan menjawab “Kan tinggal panggil pembantu”. Hem, begitu tho???. Saya cuma bisa bergeleng-geleng sj…..hehe.
Okelah, saya sepakat dengan namanya pembantu. Tapi banyak yang salah kaprah. Ada pembantu bukan berarti peran seorang istri hilang. Pembantu sekedar untuk meringankan pekerjaan kita sih tidak apa-apa. Namun kalau menggantikan semuanya, kasihan donk pembantunya. Mereka bukan budak yang bisa kita suruh-suruh. Dalam hal ini, anda sebagai seorang istri juga tetap berperan. Misalnya memasak, mengasuh anak, menyeterika baju suami, menyapu rumah, dsb. Bukankah itu merupakan salah satu ibadah istri kepada suami?. Jadi dalam hal ini, seorang istri kudu bisa mengatur urusan rumah tangga. Pembantu hanya sekedar meringankan beban kita.
Untuk urusan masak, sebisa mungkin seorang istri memasaknya sendiri. Tidak jajan, kalau dalam kondisi tidak terpaksa. Yah, walaupun rasanya mungkin masih kacao balo…itu akan menjadi kepuasan tersendiri lho. Ya, awalnya coba-coba, ntar khan lama-lama udah terbiasa. Makanya, kalo yang masih sering jajan dari sekarang belajar masak donk….hehehe.
Menjadi seorang Istri, berarti siap untuk bertambah bebannya. Karena kita tidak lagi mengurusi diri kita. Tapi mengurusi suami, keluarga, mungkin juga lingkungan masyarakat.
Mungkin ini yang tidak banyak dipikirkan oleh calon-calon pasangan muda. Mereka tahunya ya asal menikah saja. Padahal, setelah menikah mereka tentu akan menjadi salah satu bagian dari lingkungan sosial (masyarakat). So, mereka juga perlu membina hubungan social dengan masyarakat. Siap untuk bergabung dengan yang namanya arisan Ibu-ibu, pengajian, atau ronda (untuk suami). Jadi, disini anda perlu dari sekarang membiasakan diri untuk bersosialisasi agar tidak kaget nantinya. Jangan sampai orang bilang, “wah, pasangan itu sombong banget ya. Tidak pernah nongol”…..:).
Maka anda juga harus pandai-pandai untuk mengatur waktu anda. Misalkan anda sebagai seorang PNS yang harus meninggalkan rumah pagi-pagi. Maka sekitar habis subuh anda harus sudah mulai memasak, bersih-bersih, dsb. Yah, mulailah buat perencanaan harian anda. Jadi ntar biar tidak kaget deh. Banyaknya tugas anda, bukan berarti tidak ada waktu untuk mengerjakannya. Itu semua tergantung bagaimana anda memaksimalkan waktu yang ada untuk dibagi-bagi. Jangan sampai gara-gara anda harus segera pergi ke sekolah, E anda tidak sempat membuatkan sarapan suami…hehehe. INGA…INGA..!!.
Bahwa sebenarnya kita bisa melakukan beberapa kegiatan dalam satu waktu lho. Jangan mentang-mentang baru menyapu, terus belum sempat memasak, dsb. Bahkan 3 kegiatan sekalipun bisa dikerjakan secara bersama-sama. Misalkan anda menanak nasi, anda juga menyapu, anda juga mengasuh anak (mengawasi anak bermain maksudnya). Pasti bisa….!!!. Kenapa tidak…?
Begitu bahagianya seorang suami-istri yang menikah dan dikarunia anak. Berarti Allah SWT telah memberikan amanah lagi kepada kita. So, kita mesti menjaga dan merawat anak kita dengan baik. Kembali soal pembantu. Sekarang ini, kita sering jumpai banyak Ibu-ibu yang menitipkan anaknya ke pengasuh. Alasannya sih karena sibuk tidak ada waktu, dsb. Hem, kasihan banget sih….
Jadi untuk urusan merawat anak, sebisa mungkin kita terlibat langsung. Apalagi yang namanya anak masih bayi atau kecil. Dia akan sangat rawan dengan berbagai hal. Jangan sampe deh, salah pengasuhan. Terutama untuk pola makan anak. Yang namanya anak khan belum bisa ngomong lapar. Jadi perlu perhatian khusus dari orangtua untuk menyuapi.
Terus juga soal pendidikan Anak, pilihkanlah yang terbaik sesuai dengan minat anak. Jangan dipaksakan. Juga soal pendidikan agama. Anak harus dibiasakan sejak dini melakukan hal-hal yang baik. Hal-hal sederhana, seperti makan menggunakan tangan kanan, berdo’a sebelum tidur, dsb. Jika memang orangtua sibuk, yang terpenting bukan kuantitas waktu, tapi kualitas. Atur waktu anda untuk memberikan 1 atau 2 jam sehari bersama anak-anak anda. Mereka butuh anda untuk berada disampingnya. Berikan ia perhatian dan kasih sayang.
Jika anak anda sudah mulai menginjak TK, maka bantulah ia untuk memaksimalkan belajarnya. Dampingi ia dalam belajar dan bermain. Hindarkan ia dari pengaruh TV yang kurang baik. Akan lebih baik lagi jika anda membacakan cerita ke anak. Pasti deh, anaknya nanti akan gemar membaca. Tentu itu akan berdampak baik dengan kemampuan calistung (baca-tulis-hitung) anak. Karena saat ini dengan semakin tuntutan jaman, anak dituntut untuk bisa calistung saat hendak memasuki SD. Jadi sedini mungkin kita biasakan kepada anak dengan gemar membaca. Agar setelah besar nanti kita tidak kewalahan/repot.
Saya teringat dengan tulisan yang pernah saya baca. Bahwa kemampuan membaca anak itu bukan ditentukan dari usia, tetapi dari perkembangan yang lain. Jadi berapapun usia anak, kita dapat membelajarkan anak. Yang penting cara yang kita gunakan benar. Ya, setidaknya ketika sedang bemain secara tidak sadar kita telah mengajari anak. Karena belajar anak adalah belajar sambil bermain.
Okelah, itu saja yang bisa saya ceritakan. Upsssss…………..kalo ada yang tidak puas silahkan dipuaskan sendiri…hehehe. Maaf kalo ada yang kurang berkenan dengan tulisan ini. Ini adalah sedikit sisi yang sering terlupakan bagi kaum hawa. Semoga bermanfaat bagi mereka pasangan muda yang sudah atau akan menikah. 